Selamat Hari Santri Nasional - Wendy Cahya

Kamis, 22 Oktober 2020

Selamat Hari Santri Nasional

Selamat Hari Santri Nasional -Hari ini 22 Oktober 2020 yang bertepatan dengan Hari Santri Nasional saya sedang memulai perjalanan studi master saya di Taipei, Taiwan.  Disini saya belajar bidang Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning, yang merupakan bidang teknologi masa depan. Bagi kalian yang sekarang masih berada di lingkup pesantren jangan khawatir, kalian juga bisa kok untuk belajar itu semua. Santri bukan hanya sekedar bisa mengaji, tapi mental semangat belajar bisa kalian gunakan untuk membuktikan pada dunia bahwa semangat santri bisa diterima disemua kalangan. Memang sih saya bukan ahli nahwu shorof dan membaca kitab gundul dengan lancar, tetapi saya tetap berusaha mengaji dan menjaga relasi dengan pondok pesantren. Karena rumah saya dekat dengan pondok pesantren sehingga masa kecil saya habiskan di lingkup pesantren tersebut.

Hari Santri Nasional
Hari Santri Nasional

Tiba-tiba saya ingin flash back perjalanan masa kecil dimana saya berasal dari Desa/Kec. Campurdarat, Tulungagung. Sekitar 500 meter sekitar rumahku terdapat 4 pondok pesantren yang berbeda Kyai dan memiliki spesialis berbeda-beda tetapi tetep rukun suasana sekitar rumah. Sejak kecil saya belajar mengaji di Pondok Pesantren Daruttaibin. Mulai dari belajar bacaan sholat sampai nahwu shorof. Dikatakan santri saya juga gak pernah mondok. Dikatakan gak mondok saya juga gak pernah pulang dari pondok. Itulah masa kecil yang menikmati hidup di lingkungan pondok. Mungkin bisa didefinisikan santri outsourching kali ya? hehehe. 

Kamar Santri Putra Pesantren Daruttaibin
Kamar Santri Putra


Pesantren Daruttaibin Tahun 2015

Dulunya sih sering dipikiran enak sekali melihat teman-teman yang bebas tidak disuruh orang tuanya mengaji. Bahkan sehari sampai 3 kali (ba'da subuh, ba'da ashar, dan ba'da maghrib) mengaji di pondok. Ada foto lama tahun 2015 yang masih tersimpan di hard disk. Tapi semenjak kuliah saya mulai sadar bahwa orang tua memaksakan kehendaknya dulu ada benarnya. Andaikan disaat itu saya suka bolos mungkin saya tidak seperti ini. Saya sangat bersyukur masih berada dalam lingkup yang bisa menjaga saya baik secara sifat, sikap, dan perilaku.

Saya bukan orang yang suci untuk menilai seseorang bersih ataupun kotor. Saya juga bukan tipikal orang yang membatasi dalam bergaul. Prinsip saya sih ketika mengaji ini adalah ilmu yang harus saya jaga dan saya amalkan untuk kehidupan. Tetapi ketika berkumpul dengan teman-teman tetap harus bisa fleksibel dan mengerti etika dalam bergaul. Karena agama bukan soal surga neraka, ada hal yang menurut saya penting dari belajar agama yaitu mengenal diri kita. Kalau bicara agama soal agama yang dalam mungkin lebih baik ke ustadz atau langsung ke pondok pesantren saja yaa. Saya disini ingin sharing pengalaman yang dapat saya ambil ketika saya menjadi santri. Menjadi santri itu gak ada masa aktifnya. Mungkin sekarangpun ketika ditanya ingin dikenal sebagai siapa? saya menjawab sebagai santri. Bagi saya mental santri itu harus dimiliki semua orang. Mereka memiliki semangat belajar yang kuat dalam bidang yang digelutinya. Karena mereka punya tujuan yang jauh. Ya memang kadang banyak yang menyinggung kalau santri itu kolot atau gak kenal dunia luar. Tapi nyatanya, saya santri dan saya bisa belajar AI di bidang teknologi. 

Kita jangan sampai merasa bahwa lingkup santri itu tertutup, cobalah kalian terbuka dengan potensi yang ada dalam dirimu. Sedikit cerita keenam sobat saya di pesantren yang tidak saya tunjukkan fotonya. Kita memiliki jalan yang berbeda-beda. Namun kita masih menjalankan misi yang insyaAllah baik untuk semuanya. Karena hadits yang kita pegang "khoirunnas anfa'uhum linnas" semoga bisa terlaksana untuk kebermanfaatan bersama. Kami berbeda-beda bidang ada yang menekuni photografi dan desain, menekuni usaha konveksi, menekuni usaha kuliner, dan satu lagi yang berjuang dalam ilmu hukum dan politik. Kita berawal dari pondok pesantren yang mungkin tidak seterkenal Gontor atau Lirboyo. Tapi selama itu bisa menjadi landasan dalam berjuang. Orang lain tak akan pernah tanya darimana asalmu. Satu lagi yang terpenting menurut saya, dimanapun dan kapanpun tanamkan kejujuran dan tanggung jawab. Semesta akan menerimamu apa adanya tanpa beban. Semoga dengan perjalanan ini dapat membuat semangat santri kembali. Salam Sukses Wendy Cahya










Posting Komentar